Jumlah Pengunjung Email
                 
Reservasi Hotel Call : (022) 7302208, 081394209417

Publikasi : 19-03-2008
pelatihan "MARKETING & UP SELLING STRATEGY " 9 juni 2010...be ready !!!
 
Himpunan Hotel Melati Kota BAndung bekerjasama dengan COSTRA menyelanggarakan pelatihan rutin 3 bul...
 

Publikasi : 19-03-2008
Bisnis Hotel di Bandung Masih Menjanjikan

DALAM kurun waktu lima tahun terakhir pertumbuhan perekonomian Kota Bandung terus terdongkrak naik. ...
 

 
 
Kegiatan Silaturahmi dengan surat kabar KOMPAS Perwakilan Jawa Barat
Kegiatan Silaturahmi dengan surat kabar KOMPAS Perwakilan Jawa Barat
Kegiatan Pelantikan Pengurus Himpunan Hotel Melati Bandung (Bumi Melati), pada tanggal 13 September 2007 di Hotel Bumi Sawunggaling No.13 Kota Bandung
Kegiatan Pelantikan Pengurus Himpunan Hotel Melati Bandung (Bumi Melati), pada tanggal 13 September 2007 di Hotel Bumi Sawunggaling No.13 Kota Bandung
Kegiatan Pelantikan Pengurus Himpunan Hotel Melati Bandung (Bumi Melati), pada tanggal 13 September 2007 di Hotel Bumi Sawunggaling No.13 Kota Bandung
Kegiatan Pelantikan Pengurus Himpunan Hotel Melati Bandung (Bumi Melati), pada tanggal 13 September 2007 di Hotel Bumi Sawunggaling No.13 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Musyawawarah Himpunan Hotel Melati Bandung (BUMI MELATI), pada tanggal 28 Agustus 2007 di Hotel Lodaya, Jalan Lodaya No.83 Kota Bandung
Kegiatan Dialog Interaktif tentang manfaat teknologi Informasi bagi kemajuan hotel
Kegiatan Audensi dengan  Kapolresta Bandung Barat
Kegiatan Audensi dengan  Kapolresta Bandung Barat
 
 
Senin, 06 September 2010

Publikasi : 19-03-2008
 
Bisnis Hotel di Bandung Masih Menjanjikan
DALAM kurun waktu lima tahun terakhir pertumbuhan perekonomian Kota Bandung terus terdongkrak naik. Penyebab kondisi yang kini tengah dialami Kota Bandung bukan hanya karena saat ini menjadi salah satu kota tertinggi dikunjungi wisatawan sebagai kota wisata tetapi juga sebagai kota bisnis dan konvensi.

Imbas dari kondisi tersebut, julukan "business and leisure" di Bandung menjadi sangat kondang. Kehadiran sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan sektor lain.

"Ibarat cendawan di musim hujan, kehadiran pusat perbelanjaan, distro, factory outlet, tempat makan dan jajanan hampir disetiap sudut kota bermunculan. Kondisi ini juga menjanjikan keuntungan ekonomi pada bisnis jasa penginapan, perhotelan bahkan apartemen yang disewakan atau berfungsi sebagai tempat menginap di mana jumlahnya terus bertambah," ujar Drs. Wawan Irawan, yang kini menjabat Kasubdin Kesenian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat.

Saat menjabat Kasie Pengembangan dan Pembinaan Kepariwisataan di Subdin Pariwisata, hingga akhir tahun 2007, Wawan menginventarisasi sedikitnya di Kota Bandung ada 51 hotel dengan klasifikasi bintang, dengan jumlah kamar 4.534 unit dan 6.521 tempat tidur.

Sementara jumlah hotel melati mencapai 170 buah, dengan jumlah kamar 3,417 unit dan 5.937 tempat tidur. Sedangkan restoran sebanyak 138 unit dan 170 rumah makan. "Sementara jumlah distro dan atau factory outlet serta tempat-tempat suvenir belum terinventarisasi," ujar Wawan.

Memasuki tahun 2008, banyaknya hotel maupun apartemen merangkap fungsi dengan disewakan yang bermunculan di Kota Bandung. Bahkan berdasarkan data ajuan yang masuk ke Dinas Perizinan serta Dinas Kepariwisataan Kota Bandung, sedikitnya tercatat 17 pengusaha hotel yang mengajukan perizinan usaha perhotelan.

Tidak hanya masalah besarnya dana investasi tetapi juga masalah lamanya break even point, juga yang harus dijadikan bahan pertimbangan para investor. Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi normal dengan mengabaikan beberapa kendala politik dan sosial, break even point untuk investasi hotel setidaknya baru akan tercapai 6 hingga 8 tahun mendatang.

**

Bisnis perhotelan merupakan bisnis layanan jasa, maka selain dana investasi, pemilik dan pengelola hotel juga harus menyediakan dan menyisihkan dana yang cukup untuk biaya pemeliharaan hotel agar kondisi hotel tetap layak dan nyaman untuk ditempati. "Istilah dalam ilmu ekonomi, hotel dapat dikatakan memiliki variable input yang cukup beragam, baik ragam jenis maupun nominalnya," ujar Wawan.

Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, H.M. Askari Wirantaatmadja, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan selalu melampaui target.

Tahun 2006, wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung mencapai 2,5 juta, tahun 2007 sebanyak 3,5 juta dan tahun 2008 ditargetkan wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung mencapai 6 juta orang.

Dikatakan Askari, jumlah kedatangan wisatawan ke Kota Bandung, setiap pekannya mencapai 50.000 orang dan setiap tahunnya rata-rata mencapai 2 juta. Jumlah tersebut, 1,93 juta di antaranya wisatawan domestik dan 94.600 orang merupakan turis mancanegara.

Kondisi ini menjadikan sektor jasa, termasuk di dalamnya hotel, restoran, dan factory outlet, rata-rata memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian Kota Bandung, yaitu sebesar 50,9%. Sesuai hukum pasar, dimana ada supply, di situ ada demand (permintaan). Kenaikan supply kamar hotel yang terjadi, tidak lain dikarenakan adanya demand terhadap kamar hotel itu sendiri yang setiap tahun cenderung naik. Tingkat hunian kamar hotel setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Dibandingkan tahun 2005, pada tahun 2007 terjadi peningkatan kira-kira mencapai 15%.

Dari sudut pandang investor, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I. Budhyana, M.Si., kondisi ini berarti membuktikan kalau bisnis perhotelan di Kota Bandung sampai saat ini masih merupakan bisnis yang visible (jelas).

Mengingat Kota Bandung masih menjadi salah satu kota tujuan wisata bagi sebagian besar warga Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, bahkan Malaysia, Singapura dan sejumlah negara Afrika. "Akan tetapi, menurut pandangan saya, apabila para pelaku bisnis perhotelan hanya mengandalkan revenue yang tinggi pada saat peak season (weekend dan masa libur sekolah), akan berat bagi hotel tersebut untuk bertahan mengingat tingginya biaya operasional sehari-hari," ujar Budhyana.

Karena menurut Budhyana, dalam menjalankan bisnis perhotelan memiliki variable input yang beragam dan terbagi dalam operational cost serta fixed cost. Operational cost adalah semua biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan yang mencakup biaya kamar, makanan, dan minuman, listrik, air dan sebagainya. Sedangkan fixed cost lebih kepada semua biaya yang berhubungan dengan pegawai, misalnya gaji beserta seluruh benefitnya.

Di luar variable cost tersebut, biaya lain yang harus pula dipertimbangkan adalah management fee yang merupakan kewajiban pengelola hotel untuk membayar sejumlah fee kepada operator hotel dan bentuk pembayaran fee tidak sama untuk setiap operator.

"International chain biasanya menerapkan perhitungan fee berdasarkan jumlah kamar yang tersedia dan kamar yang terisi. Sedangkan operator hotel lain menerapkan fee berdasarkan persentase pendapatan hotel dan laba kotor," ujar Budhyana.(Retno HY/"PR")***
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Marketing Live Chat